Harapan dan Doa

Ia menyebutnya lelaki akhirat.
Sedangkan perempuan yang jatuh cinta,
dijulukinya perempuan telaga.

Harapannya,
akan ada kesejatian cinta di antara mereka.

Doanya,
“Perkenankan mereka,
saling mencintai untuk dunia-akhiratnya,
Pencipta Kehidupan.”

Ini cerita usang,
yang diharap akan abadi hingga nanti.

Lelaki akhirat adalah seorang yang senantiasa menjaga diri,
ia jalankan perintah-Nya dengan ilmu.
Dicarinya pengetahuan seluas-luasnya,
untuk menyampaikan seluruh kabar kebenaran dengan keberanian.
Tak banyak bicara memang, sejatinya.
Hanya, nasihatnya tak pernah lapuk termakan usia.
Melalui hati ia memberi kebaikan,
maka melalui hati pula penerimaan akan mengkristal,
tanpa banyak perlawanan.

Berbeda dengan perempuan telaga.
Ia adalah seorang yang biasa saja,
meski lingkungan membuatnya otomatis terjaga.
Hanya, semakin dewasa keinginannya adalah memberontak,
agar ada kesadaran dalam diri untuk tunduk patuh
dengan pemahaman utuh bahwa kehaqiqian adalah kebutuhan.
Bukan pewarisan dari doktrin-doktrin tanpa adanya internalisasi.
Keistimewaannya, ia peka sekali pada rasa,
karena memiliki dua sumber mata air yang mulia,
air hujan yang suci dari langit Tuhan
dan mata air tiada henti dari bumi Tuhan.

Keduanya tidak lantas mampu bertemu,.

Maka, banyak yang turut mendoa,
agar jika memang kebaikan adalah untuk berdua,
meski bagaimana beda dunia,
akan mampu dipertemukan juga.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinik

Purwokerto, 14 Juli 2016
4.58 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Ulang Tahun Beya

Harmoni