I Want To Be Doctor

               Hello everybody, how are you? Ah sudah lama tidak bertemu, okay kali ini aku mau sedikit cerita nih. Cerita yang mungkin bisa bikin aku malu suatu saat nanti atau malah bikin aku tersenyum bangga. Hah entahlah.
               Sekarang aku sudah kelas XII, gak kerasa banget padahal rasanya baru kemarin aku ikut tes masuk Sekolah Menengah Atas. Itu menandakan waktu tidak pernah berhenti barang sedetikpun, bahkan saat aku tidak menyadarinya.
               Masuk kelas 3 SMA ini, dimana suasana kegalauan semakin merebak dikalangan siswa tahun akhir, obrolan tentang masa depan mulai menggaung dimana-mana. Obrolan mengenai pilihan jurusan dan universitas sudah menjamur mulai dari kantin, laboratorium, kelas, mushola, tempat parker, WC, aula sampe jalan raya! Yap, akhirnya ladies and gentlemen, kami memikirkan nasib kehidupan kami juga.


               Sejak kecil aku udah kepengin jadi dokter. Sejak TK kalau tidak salah, sejak aku paham arti kata cita-cita adalah sesuatu yang akan terus kamu perjuangkan mati-matian sampai kamu meraihnya. Dan simple saat itu aku merumuskan satu cita-citaku: jadi dokter.
               Dan cita-cita itu tidak pernah berubah. Tidak pernah sekalipun hilang dari hati. Mungkin kalau jurusan cadangan aku punya beberapa. Pas SMA kelas 1, aku punya jurusan cadangan pas aku galau mau masuk penjurusan. Nilai IPA dan IPS aku sama-sama tinggi (atau bobrok dua-duanya :-D), dan hasil psikotes aku juga menunjukkan hasil kalau aku cocok baik di IPA maupun IPS. Tapi minat aku lebih dominan dijurusan IPA mungkin karena aku ingin jadi dokter. Tapi beberapa waktu aku memang sempat mendua, pengen jadi direktur banklah, pengin jadi arsiteklah. Hehehe
               Yah, dan akhirnya aku masuk IPA and here I’m now! A third year student who gets to think about her future so deeply …
               Karena aku nggak termasuk murid pintar di SMA. Beneran deh, nilai aku gak mujur-mujur amat bahkan rangking aku di semester 4 kemarin aku ada diurutan ke 7. Tapi aku tetep bersyukur dengan apa yang aku raih. Dan aku tahu teman-teman aku meng-underestimate aku untuk tembus kedokteran. Ya, gak heran juga sih, masuk kedokteran katanya sangatlah sulit… yang peringkat satupun belum tentu bisa masuk. Ya terus aku harus gimana coba? Kadang aku mikir kenapa kedokteran itu banyak peminatnya sih atau bisa disebut favorite, padahal aku pengen jadi dokter itu dari hati, aku bener-bener kepengen mengabdikan hidup aku sebagai seorang dokter. Bukan karena ingin dibilang kerenlah, atau mungkin apalah!
               Ya saat ini, aku semacam males ngomongin hal tentang pilihan-pilihan jurusan dan universitas. Males dan malu! Malu karena setiap aku bilang pilihan aku adalah “kedokteran” mereka seakan-akan menatap ku tidak percaya. Tatapan tajam mereka seolah-olah bertanya, “selain kedokteran?”. Dan aku hanya diam membisu, karena aku tidak sanggup menjawab selain kedokteran. Oh, lupakan tentang arsitek dan direktur bank, karena semenjak aku menginjak tahun ketiga di SMA, aku sadar satu-satunya jurusan yang aku inginkan hanya dan Cuma kedokteran.

               Dan aku males dan malu untuk mengutarakan hal itu. Karena aku tidak sanggup melihat padangan mata teman-teman SMA-ku yang berbalut rasa terkejut dan iba. “Serius cuma  kedokteran? Kamu yakin bisa?” sampai guru BK dan guru-guru lainnya pun menitik beratkan aku, jika memang aku ingin masuk kedokteran aku harus siap-siap di swasta dengan uang ratusan juta. Sakit! (shut up! that’s not my way!). Yap, pernyataan-pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan tersirat itulah yang aku tangkap dari pandangan makhluk berseragam rapih maupun yang berseragam putih abu-abu yang memandangiku.
               Saat ditanya apa alasan aku keukeuh ingin jadi dokter? Sebenernya aku gak punya alasan yang spesifik. Bukan untuk sebuah title, almamater yang keren atau uang yang melimpah. Jujur aku menginginkannya dari hati, aku merasa menjadi seorang dokter adalah anugerah karena menjadi sangat mulia jika benar pada jalannya-di percaya oleh Allah untuk membantu sesama. Aku ingin sekalu membantu orang-orang dengan apa yang aku milikki, dengan dedikasi yang tulus dari hati. Aku tidak munafik- aku bilang aku juga butuh materi, untuk kehidupan yang lebih baik dijalan Allah, menghidupi kedua orang tua dan adikku. Menolong orang-orang diluar sana selama Allah memampukan aku. Itu yang ada dibenakku saat ini.
               Saat ayah bilang semua pekerjaan itu mulia jika kita menjalankannya dengan niat dan ikhlas karena Allah, contohnya menjadi guru, guru adalah sosok manusia yang sangat mulia yang dengan telitinya membagikan ilmu mereka kepada anak-anak didiknya. Memang tidak salah, tapi disisi lain aku juga punya minat dan passion. Ya, hobi dan minatku adalah kedokteran menurutku, bagaimana aku senang dan merasa berarti saat membantu tante ku diruang pasien yang notabene nya seorang bidan. Alangkah indah bukan saat kita mengabdikan diri kita, terus bekerja dengan ikhlas dan senang karena dalam passion dan minat kita sendiri?
               Sekarang aku sedang berusaha memperbaiki segalanya. Menjalankan kewajibanku sebagai hamba Allah, sebagai anak, sebagai seorang kaka, sebagai makhluk sosial dan sebagai pelajar. Dan menjadi apapun aku nanti semoga itu yang terbaik dari Allah dan semoga Allah menyelaraskan hati ku dengan apa yang telah Dia pilihkan untukku. Yang harus aku lakukan sekrang adalah meningkatkan kualitas hidupku.

“Allah itu mengabulkan doamu dengan 3 cara:
1.      Langsung mengabulkan saat itu juga,
2.      Menunda sampai waktu yang lebih indah datang, atau

3.      Memberi yang lebih baik dari apa yang kami minta.

Ini salah satu yang menginspirasi aku:



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Ulang Tahun Beya

Harmoni

Harapan dan Doa