Aliran Pendidikan dalam "Novel Totto-chan"





Aliran pendidikan yang diterapkan dalam cerita Novel Totto-Chan adalah aliran pendidikan Konvergensi (Nativisme dan Empirisme), Progresivisme, dan Esensialisme.
Aliran konvergensi adalah penyatuan antara aliran nativisme dan empirisme, artinya adalah bahwa kedua aliran tersebut saling bersinergi. Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaimana teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembawaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.
Aliran Esensialisme modern adalah aliran pendidikan yang memiliki karakterisitik; berpusat pada guru, peserta didik dipaksa untuk belajar mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.
Aliran progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak, sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru atau bahan pelajaran.



Adapun beberapa alasan yang menunjukkan bahwa cerita Novel Totto-Chan menerapkan aliran-aliran pendidikan yang telah disebutkan adalah:
Totto-Chan adalah anak yang mempunyai pembawaan baik dan positif walau di beberapa sisi dia bertingkah aneh seperti suka membuka-tutup mejanya berkali-kali, berdiri di depan jendela kelas, memanggil pemusik jalanan, dan menggambari meja. Sehingga ibu gurunya menganggap itu adalah perbuatan nakal, sehingga dia membutuhkan wadah atau penyaluran minat dan bakat yang sesuai dan dapat menerima karakteristiknya. 

Di sekolah nya yang baru Tomoe Gakuen, Totto-chan berjumpa dengan teman-teman yang baik antara lain Yasuaki-chan yang terkena polio sejak kecil, Sakko-chan, Miyo-chan yang adalah putri ketiga Kepala Sekolah, Aiko Saisho yang keluarganya adalah salah satu keluarga terkenal di Jepang, si ahli fisika Tai-chan yang juga menjadi cinta pertama Totto-chan, Oe yang menarik kepang Totto-chan, Takahashi yang memiliki kelainan fisik, dan lain-lain. Walaupun beberapa di antara mereka memiliki kekurangan fisik, mereka mampu saling menghargai dan saling mendukung. Ini menunjukkan bahwa anak-anak tersebut dari berbagai kalangan, namun sekolah Tomoe Gakuen menampung semuanya tanpa melihat apa kekurangan dan kelebihan mereka. Sosaku Kobayashi sebagai kepala sekolah Tomoe Gakuen, mendidik murid-muridnya dengan "menyerahkan"nya pada alam dan membiarkan mereka tumbuh sesuai kepribadian dan talentanya masing masing. Ia selalu berusaha memahami murid-muridnya dan membuat mereka senang. Inilah yang membuat Totto-chan dan teman-temannya begitu dekat dengan Mr. Kobayashi sampai-sampai menganggapnya sebagai teman. Ini sebagai penjelasan bahwa cerita Novel Totto-chan menerapkan aliran pendidikan konvergensi.

Adapun aliran esensialisme adalah pada saat Totto-Chan bersekolah di sekolahnya yang pertama sebelum akhirnya Totto-Chan dikeluarkan dari sekolah tersebut. Sekolah tersebut menggunakan metode dimana guru menjadi pusat belajar yang harus diperhatikan, selain itu lebih menekankan ke bahan ajar yang sudah di sepakati (kurikulum). Keadaan ini yang membuat kelakuan Totto-Chan yang aktif dan ilmiah dianggap perilaku yang nakal dan tidak sewajarnya. Padahal seorang anak hanya perlu diterima segala bentuk ekspresinya, yang kemudian diberi apresiasi dan pengarahan yang lebih lanjut maka dari itu mereka akan merasa lebih bersemangat lagi dalam bertindak dan tidak merasa tertekan.

Aliran progresivisme adalah pada saat Totto-Chan bersekolah di sekolahnya yang baru. Di sekolahnya yang baru Totto-Chan merasa senang karena bertemu dengan seseorang yang dapat menerimanya sepenuh hati yakni kepala sekolah Tomoe Gakuen yang bernama Sosaku Kobayashi. Selain itu Totto-Chan merasa bahwa sekolahnya yang baru sangatlah unik dan berbeda dengan sekolah-sekolah  pada umumnya. Di sekolahnya yang baru Totto-Chan bebas memilih kegiatan (pelajaran) apa yang dia suka yang akan dia lakukan, sistem seperti ini tentu saja sangat membantu murid-murid mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing.

Selain itu ditunjukkan pada saat Totto-Chan mencari dompetnya yang tenggelam di bak kotoran, Sosaku Kobayashi sebagai pendidik sama sekali tidak memarahi Totto-Chan saat Totto-Chan mengeluarkan semua kotoran dari bak tersebut, ia membiarkan Totto-Chan berekpresi sesuai dengan pemikiran alami Totto-Chan. Sosaku Kobayashi hanya menyampaikan pesan “kau akan mengembalikan keadaan seperti semula bukan?”, pesan ini adalah bentuk pengarahan. Murid bebas berekpresi namun harus dalam zona yang baik dan bertanggung jawab. Tentu saja Totto-Chan tidak merasa dirinya dimarahi atau mendapat tekanan, dia secara alami akan berpikir dan berperilaku bertanggung jawab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamat Ulang Tahun Beya

Harmoni

Harapan dan Doa